Pandemi Covid-19 dan Hiper-Realitas Dalam Perubahan Kebudayaan Ruang Virtual

 

Pandemi Covid-19 dan Hiper-Realitas Dalam Perubahan Kebudayaan Ruang Virtual

Teori Sosisologi Posmodernisme

Arien Seanita Annasya / 18413244006

Pendidikan Sosiologi UNY / KKN UNY 2021

Virus Covid-19 telah menjadi pandemi di negara kita Indonesia membuat masyarakat kita dipaksa untuk berpikir keras untuk mengatasinya, berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi juga menjadi lebih canggih lagi untuk kehidupan sekarang ini sehingga menciptakan ruang baru yaitu ruang virtual. Data untuk Indonesia sendiri per tanggal 26 Mei 2021 menurut web dari covid19.go.id berdasarkan sumber data dari kementrian kesehatan RI, tercatat ada 1, 79 juta kasus, 994 dirawat, 4. 9627 meninggal, dan 1, 64 juta sembuh. Melihat uraian di atas, diprediksi jumlah kasus akan terus bertambah. Dengan berbagai kegiatan online semua kehidupan mulai berubah.

Perubahan Ruang virtual Menjadikan Hiper-Realitas

Adanya perubahan kebijakan dalam pendidikan, bekerja, dan beribadah semua dilakukan di ruamah, hal tersebut adalah upaya untuk memutus rantai virus Covid-19 yang membuat kita harus berhadapan dengan realitas baru yaitu dunia virtual. Segala aspek kehidupan dunia nyata ada di dalamnya, seperti dunia pendidikan, ekonomi, bisnis dan lain sebagainya. Virus Covid-19 seakan menjadi penentu ‘revolusi’ budaya dan mengubah kehidupan masyarakat.

Dalam kondisi ini perkembangan IPTEK telah mengubah bentuk masyarakat manusia dari masyarakat dunia lokal menjadi masyarakat dunia global, dunia yang sangat transparan terhadap perkembangan informasi. Kini, kita begitu intens menggunakan teknologi informasi dalam berbagai kegiatan kita sehari-hari seperti belajar dirumah, pegajian online, bekerja, dsb.

Ruang virtual yang tercipta selama masa pandemi covid-19 menimbulkan peristiwa untuk kita, dimana kita akan mulai sulit melepaskan diri dari dunia virtual yang bebas ini. Komunikasi dan penyebaran informasi ternyata dirasakan begitu mudah dan cepat di antara rekan kerja, keluarga, dosen, maupun mahasiswa dengan akses tak terbatas oleh ruang dan waktu.

Tetapi dengan kemudahan yang ada tersebut membuat banyak masyarakat sekarang ini kehilangan identitas mereka, teknologi informasi yang diimbangi dengan internet yang memadahi menciptakan sebuah ruang virtual dimana semua kegiatan dilakukan secara online di ruang virtual. Adanya kebebasan menjadikan banyak individu tidak mempunyai ranah pribadi, semua bisa diekspos secara bebas tidak ada batasan. Ada berbagai retakan budaya yang terbentuk di dalam budaya kita sekarang ini yang menyebakan goyahnya fondasi identitas yang telah individu tersebut bangun, hal tersebut membuka peluang bagi berbagai proses pencampuran, amalgamisasi, dan hibridisasi kultural yang menjadikan sebuah 'krisis identitas'.

Contohnya ketika individu sudah masuk kedalam sebuah ruang virtual individu tersebut memiliki kebebasan yang tak terbatas, individu tidak menjadi diri mereka sendiri. Misalkan seorang individu menggunakan media sosial Facebook untuk masuk kedalam sebuah grup tertentu, individu tersebut akan berusaha mengikuti anggota dari grup tersebut, padahal sebenarnya identitas individu tersebut berbeda dari anggota-anggota yang ada di grup tersebut, kemudian jugapun tidak tahu bagaimana identitas sebenarnya dari anggota-anggota yang ada tersebut, individu berusaha menirukan agar citra mereka bagus, kebebasan dalam setiap individu dapat menjadi siapa saja menjadikan tiap individu kehilangan jati diri. Dunia realitas kebudayaan yang sebelumnya dibangun berdasarkan aneka batas-batas tertentu kini kehilangan fungsi-fungsi batas, segmentasi dan kategorisasinya.

Dengan hal tersebut akan tercipta sebuah Hiper-Realitas. Berbagai bentuk mitos, fantasi, dongeng, fiksi, imajinasi, halusinasi yang dulu dianggap bukan merupakan bagian dari realitas kini secara artifisial dapat direalisasikan menjadi 'realitas'. Ketika banyak keadaan tidak lagi selaras, di mana perbedaan antara yang nyata dan yang imajiner tidak ada lagi, realitas serta merta terkontaminasi oleh simulasi, maka dunia manipulasi atau dunia rekayasa menjadi hal yang nyata. Contoh transformasi dalam kehidupan sehari-hari yaitu beberapa teman saya menjadikan media sosial Instagram sebagai candu dalam kehidupan sehari hari mereka. Mereka menggunakan Instagram untuk mengunggah konten seperti foto, video, instastory dan konten konten lainnya yang seringnya berbalik dengan realitas dari diri mereka. Teman saya selalu menampilkan hal terbaik yang mereka punya untuk dibagikan di Instagram. Padahal tampilan teman saya tersebut dalam Instagram berbeda dengan tampilan sebenarnya, namun sebagian orang mengonsumsi tampilan orang lain dalam Instagram seperti melihat realita yang ada padahal tidak. Teman saya menggunakan Instagram untuk berlomba-lomba menampilkan versi terbaik dari diri mereka seperti menggunakan pakaian bagus dan mahal, terlihat cantik, pamer skincare mahal, dsb. Hal tersebut menjadi gambaran yang melambangkan eksistensi dan kelas sosial masyarakat.

Beberapa orang sering memaksakan dirinya termasuk teman-teman disekitar saya terkadang saya juga mengalami itu, hal tersebut agar terlihat sama dengan pengguna Instagram lain dalam akun instagramnya. Budaya seperti itu akan terus menular dan menjadikan masyarakat candu akan dunia virtual dengan berbagai media sosial dan menjadi Hiper-Realitas. Ketika seseorang membagikan sisi terbaik mereka di media sosial disini khususnya Instagram, maka mereka secara tidak langsung telah mengkonstruksikan orang lain untuk memiliki pemikiran yang sama. Kondisi pelaku yang membagikan sisi terbaik mereka dalam Instagram belum tentu sama dengan kenyataannya. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa realita sebenarnya telah runtuh dan simulasi membuat realitas menjadi kabur, pengaburan kelas sosial akan memiliki dampak yaitu menyebabkan ketidak jelasan status seseorang yang ditampilkan dalam media sosial atau bisa disebut kehilangan identitas.

Perkembangan Budaya Baru

Dalam kondisi saat ini kita seolah baru menyadari bahwa perkambangan teknologi informasi yang diimbangi dengan lancarnya internet menyediakan segalanya, hiburan, berita, serta bisa juga mengakses televisi, maupun koran secara online. Efek merebaknya Virus Covid-19 langsung atau tidak langsung menimbulkan gonjang ganjing struktur sosial, pendidikan, ekonomi, politik maupun budaya. Hubungan antar-manusia telah berubah signifikan setelah peristiwa ini. Era revolusi industri 4.0 membawa manusia berinteraksi secara virtual, tak terbatas ruang dan waktu. Pandemi covid-19 ini kemudian membuktikan bahwa kita sungguh bisa terhubung secara bebas tanpa batas di dalam ruang virtual.

Batas-batas kebudayaan masa lalu kini seakan telah diruntuhkan oleh kemajuan teknologi informasi yang semakin berkembang. Kita hidup di dalam dunia yang telah kehilangan batas namun justru mempersempit ruang untuk berinteraksi secara fisik, begitu kata Yasraf Amir Piliang dalam Buku yang beliau tuliskan (Dunia yang dilipat). Sekarang kita sedang bergerak ke arah virtual, mengurangi interaksi sosial di ruang nyata. Kita yang tadinya kurang mengenal belajar daring (dalam jaringan) atau home schooling, kini semua melakukannya, dan mungkin banyak yang menikmatinya. Perubahan pola interaksi itu akan jadi gelombang perubahan besar yang sudah dibawa oleh Internet dalam tahun-tahun terakhir. Saat ini kita sedang memasuki revolusi baru yang penyebabnya adalah Virus Covid-19. Sektor potensial yang akan terganggu dengan adanya pandemi ini di antaranya sekolah, universitas, tempat kerja. Kita mudah berkomunikasi tanpa batas secara virtual tetapi sempit dalam berinteraksi secara langsung

Perubahan budaya yang menghasilkan masyarakat baru telah terjadi dan terus bergerak. Saat inilah kita merasakan dan mengalami lompatan perkembangan teknologi informasi yang luar biasa. Semua kegiatan belajar dan bekerja dilakukan di rumah, seperti sekolah/kuliah, menulis laporan kerja, dilakukan secara virtual. Smartphone, personal computer, console, maupun virtual reality menjadi alat dan jembatan dunia faktual ke dunia virtual. Alat ini pula yang memiliki pengaruh besar akan terbentuknya budaya baru yaitu budaya virtual. Cyberspace secara bertahap mempengaruhi manusia, melalui peralatan yang mudah dioperasikan, komunikasi yang menipiskan jarak antara kata konkret dan virtual.

Perkembangan teknologi informasi telah menciptakan sebuah “ruang baru” yang bersifat maya, yaitu cyberspace. Ruang baru ini telah mengalihkan berbagai aktivitas manusia (sosial, ekonomi, kultural, spiritual, bahkan seksual) dari dunia nyata ke dunia maya yang dikenal dengan dunia tanpa batas. Sehingga apapun yang dapat dilakukan di dunia nyata, kini dapat juga dilakukan dalam bentuk artifisialnya dalam cyberspace. Akibat pandemi covid-19 terjadi sebuah migrasi besar-besaran terjadi dalam kehidupan manusia, yaitu migrasi dari jagat nyata ke jagat maya (virtual) dari kehidupan di ruang nyata menuju kehidupan di ruang maya (virtual). Migrasi kemanusiaan ini telah menimbulkan perubahan besar dalam cara setiap orang menjalani dan memaknai kehidupan. Cyberspace menciptakan sebuah kehidupan yang mungkin nantinya sebagian besar akan dibangun seluruhnya oleh model kehidupan yang dimediasi secara mendasar oleh teknologi, sehingga berbagai fungsi alam kini diambil alih oleh subtitusi teknologisnya, yang disebut kehidupan artifisial. Realitas-realitas sosial budaya yang ada di dunia nyata kini mendapatkan tandingan-tandingannya. Pada akhirnya, batas antara keduanya menjadi kian kabur. Hal tersebut melahirkan perubahan kebiasaan serta menciptakan difusi inovasi dalam kebudayaan. 

Fenomena tersebut menunjukkan pola perubahan ruang privat menuju ruang publik akibat tendensitas yang terjadi didalamnya, maka cyberspace menjadi ruang sosial yang juga terpapar pengaruh postmodernis. Postmodernis sejatinya sangat skeptis terhadap metanarasi, sebab metanarasi tercerai berai, validitas dan legitimisinya tumbang, sehingga semakin sukar bagi kita untuk menyusun dan menginterpretasi kehidupan dalam tuntunan metanarasi. Begitu pula dengan keberadaan Cyberspace yang sejatinya juga telah mengikis identitas kolektif (publik) dan identitas personal (privat). Contohnya Identitas diri dalam komunitas virtual, Dalam internet setiap orang memiliki kesempatan untuk melakukan konstruksi diri. Melalui grup diskusi online atau virtual seseorang dapat membangun identitas baru, terlepas dari apakah hal tersebut sesuai atau melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh moderator dalam mailing list tertentu. Dunia simulasi identitas dapat mencair dan menjadi multi identitas. Internet adalah contoh yang paling eksplisit tentang multi identitas. Cyberspace, memungkinkan pemakainya untuk menggunakan identitas yang diingininya. Seseorang bisa dengan mudah mengasumsikan dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Dimana ketika seseorang memasuki grup diskusi virtual mereka memiliki kekebasan untuk menjadi siapa saja, misalkan grup diskusi pengajian, orang-orang yang sebenarnya tidak paham agama tetapi masuk grup kemudian mengambil hadist-hadist dari internet kemudian dia membagikan ke grup tersebut menjadikan orang-orang yang berada di grup tersebut menganggap bahwa seseorang yang menyebarkan hadist-hadist tersebut paham agama, pintar, bahakan  mungkin saja dianggap sebagai ustadz maupun ustadzah padahal hal tersebut tidak sesuai dengan realita yang ada. Pandemi virus Covid-19 menciptakan dunia baru yaitu duni virtual yang menyebabkan banyak orang mengalami Hiper-Realitas. Dunia virtual menjadi “kenyataan” baru yang dieksplorasi karena begitu luas dan dinamis. Kita sekarang sudah menjadi masyarakat digital yang hiper-realitas yang kehilangan batas identitas, dipercepat dengan kehadiran virus Covid-19.

Daftar Pustaka

Piliang, Y. A. (2009). Retakan-retakan kebudayaan: Antara Keterbatasan dan Ketakberhinggaan. MELINTAS, 25(1), 75-92.

Piliang, Y. A. (2012). Masyarakat Informasi dan Digital: Teknologi informasi dan perubahan sosial, Jurnal Sosioteknologi, 11(27), 143-155.

Piliang, Y. A. (2013). Posmodernisme dan Hipermodernitas: Hibriditas Tanda dan ‘Matinya’Realitas. Linguistik Kultural, 6(3)

Iklan ada di sini

Komentar

Kontak Kami

Kirim

Archive