Penanaman Moral dan Keagamaan Anak Usia Dini

Pembullyan ternyata sudah ada di kalangan anak usia dini tanpa kita sadari. Kegiatan ini dapat membuat orang menjadi merasa sangat terganggu bahkan dapat menjadi depresi. Salah satunya adalah kasus yang diceritakan oleh Kak Seto mengenai seorang anak yang bunuh diri karena tidak mau disuruh berangkat sekolah oleh ibunya. Ternyata anak tersebut adalah korban bullying yang menyebabkan anak tersebut enggan untuk pergi mencari ilmu. Kasus ini terjadi sekitar enam tahun yang lalu di daerah Jawa Tengah. Sungguh miris, bullying sudah tak mengenal usia. Kasus bullying tingkat anak tk mungkin hanya sekedar mengolok-olok namun hal yang seperti itu dapat membuat korban tertekan. Dalam kasus tersebut membuktikan bahwa ada kekurangan dalam pendidikan moral maupun keagamaan yang tertanam dalam diri anak. 

Seiring dengan perkembangan jaman kita sering melupakan bahwa ada hal penting yang seharusnya melekat pada diri kita yaitu penanaman nilai keagamaan. Begitu halnya dengan penanaman nilai keagamaan pada anak usia dini. Pendidikan keagamaan lebih sering diartikan dengan keimanan maupun ketakwaan kepada Tuhan. Dengan demikian pendidikan agama pun menjadi bagian dalam pembentukan moral dan tingkah laku manusia. Dan dalam bertindak kita harus tau mana yang akan berdampak positif dan berdampak negatif atau merugikan orang lain dalam setiap harinya. Sebagai umat Islam kita percaya bahwa Tuhan lah yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya dan juga makhluk hidup dengan perbedaan karakter. Namun, karakter tersebut dapat kita rubah jika kita mau merubahnya.

Mendidik anak agar memiliki perilaku yang kita inginkan adalah dengan memberi tahu bahwa setiap perilaku yang kita lakukan akan berdampak untuk diri kita sendiri. Jika kita menanamkan berbahasa dengan baik dan halus mungkin tidak akan menimbulkan masalah seperti yang ada dalam kasus tersebut. Berkata baik, jujur, dan amanah adalah contoh dalam perbuatan yang menyangkut moral sekaligus agama. Peran dari orangtua sangat memiliki pengaruh kepada anak misalnya memberi evaluasi terhadap anak apabila melakukan kesalahan dan diberikan pengetahuan lebih lanjut agar anak bisa memahami bahwa perilaku itu sudah benar atau belum. Selain dari orangtua, peran sekolah juga dapat mempengaruhi moral anak. Anak yang dimasukkan kedalam sekolah yang berbasis agamis biasanya akan mendapat lingkungan yang mendukung untuk mengembangkan kecerdasan spiritual. Anak juga akan lebih intensif dalam mempelajari segala hal yang tentunya mempengaruhi perilaku anak agar lebih terjaga. 

Sebagai orangtua, sudah semestinya memberikan apa yang kita miliki untuk anak kita. Memberi suri teladan yang baik agar kelak anak tersebut dapat mencontoh dan menjadi generasi yang diinginkan. Kunci dari mengembangkan pendidikan moral dan keagamaan adalah kolaborasi antara lingkungan keluarga dan sekolah yang ikut mendominasi dalam perkembangan anak dan harus diseimbangkan antara keduanya. Apabila sudah terjalin kolaborasi yang baik maka akan sangat mudah membentuk generasi baru yang cerdas dan berakhlak mulia di zaman milenial ini. Untuk itu, marilah kita seimbangkan pendidikan di keluarga maupun di sekolah agar mendukung dalam pembentukan moral dan agama untuk anak kita tercinta. 


Salam Literasi,

By : Yuanita Anis Isnaini
Iklan ada di sini

Komentar

Kontak Kami

Kirim

Archive