Pentingnya Pembatasan Penggunaan Gadget 1 Jam pada Balita

Penggunaan Gadget pada masa sekarang tidak hanya di konsumsi oleh orang dewasa saja tapi juga dengan balita. Sejak kecil anak-anak sudah dibiarkan bebas bermain gadget oleh orangtua mereka sehingga akan menimbulkan beberapa efek pada perkembangan anak tersebut. Sedangkan dalam penelitian terbaru yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO), lama waktu menatap layar bagi balita tidak boleh lebih dari satu jam setiap harinya.

Untuk bayi di bawah usia satu tahun, WHO menyarankan untuk tidak menatap layar sama sekali dan menyarankan dapat menatap layar mulai umur 2 tahun. Selain dengan pembatasan ini, aktivitas fisik anak juga harus diperhatikan oleh orang tua agar seimbang. Tujuan memberi aktivitas pada anak guna mengalihkan anak pada gadget agar tidak terus-menerus dalam penggunaannya.

Dalam permasalahan di atas sangat jelas bahwa peran orang tua memang penting untuk mengatur pola hidup anak. Sementara itu, penggunaan gadget pada anak balita tentu dapat menimbulkan efek dalam Perkembangan Masa Kanak-Kanak Awal. Contohnya dalam kemajuan berbicara pada anak, anak yang sering menggunakan gadget bisa saja enggan untuk berbicara karena mereka telah memiliki dunianya sendiri dan mereka mengabaikan orang yang ada di sekitarnya. Padahal dalam masa ini seharusnya anak harus banyak berlatih berbicara dan mendengarkan agar dapat terjalin sebuah komunikasi dengan orang lain dan agar anak tidak memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi.

Tidak hanya itu, penggunaan gadget juga mempengaruhi pada perkembangan emosi anak. Menurut Hurlock, pada masa awal kanak-kanak fase ini merupakan saat ketidakseimbangan dimana anak mudah terbawa ledakan-ledakan. Ciri utama reaksi utama pada anak yaitu reaksi emosi anak sangat kuat. Bagi anak-anak yang sudah kecanduan terhadap gadget, mereka akan mudah marah apabila barang yang selama ini ia selalu gunakan tiba-tiba diambil oleh orangtua dan dari sini juga anak dapat menimbulkan rasa egois karena dia merasa paling benar serta ingin menang sendiri. Namun berbeda pula dengan anak yang belum mengenal gadget ia akan merasa biasa-biasa saja. Selanjutnya dapat membuat anak malas untuk berimajinasi, ternyata penggunaan gadget mempengaruhi perkembangan pada otak sang anak karena otaknya terlalu di ekspos dengan gadget biasanya anak dapat mengalami penundaan kognitif dan penurunan kemampuan mengeksploitasi imajinasinya. Jika sudah terbiasa dengan gadget, anak akan malas untuk belajar dirumah serta lebih sulit untuk mengajak anak belajar. Penggunaaan gadget ini memang harus diatur agar penggunaannya tepat, dalam artian tidak mengganggu kegiatan anak dan perkembangan yang lainnya karena jika sudah menggunakan gadget anak akan bermalas-malasan dan hanya berdiam diri di posisi yang sama sehingga meminimalisasi pergerakan anak.

Selanjutnya, perkembangan sosial pada anak juga harus diperhatikan karena ini menjadi tugas orangtua dalam membimbing dan mengenalkan berbagai aspek dalam kehidupan sosial atau dalam masyarakat. Perkembangan sosial mulai komplek ketika anak menginjak usia 4 tahun dimana anak mulai memasuki pendidikan yang paling dasar yaitu taman kanak-kanak (Rahman, 2002). Pada masa ini anak sudah mulai belajar di luar rumah dan mulai bermain dengan teman sebaya (cooperative play). Vygotsky dan Bandura menyebutnya dengan teori belajar sosial melalui perkembangan kognitifnya. Dari sini anak dituntut untuk dapat bermain bersama-sama dan saling mengerti sama lain bahwa tidak hanya dia saja yang paling benar namun ada cara pandang dari yang lain dari teman-temannya tersebut.

Dengan adanya pembatasan penggunaan gadget, anak dapat berkembang sesuai dengan usianya dengan totalitas tanpa adanya hambatan. Orang tua tentunya menjadi sebuah acuan agar anak tidak kecanduan pada gadget. Untuk mengatasi itu, orang tua perlu mengalihkannya dengan memberi aktivitas pada anak dan memastikan kualitas tidur untuk anak serta kesehatannya. Pada umumnya penggunaan gadget juga perlu dikenalkan pada anak agar tidak tertinggal dengan teknologi masa kini namun harus dengan porsi yang sewajarnya dan dengan di dampingi oleh orang tua agar tidak ada penyalahgunaan teknologi. Selain itu, orang tua juga harus lebih kreatif dalam membuat aktivitas dirumah. Jika anak bosan, kita jangan langsung memberinya gadget karena itu salah. Coba kita beri perhatian dan buat kegiatan se-menyenangkan mungkin dengan anggota keluarga lainnya agar anak dapat teralihkan fokusnya dari gadget. Selain dengan keluarga, anak juga dapat melakukan aktivitas dengan teman sebayanya karena sesungguhnya mereka masih membutuhkan waktu untuk bermain bersama dan membentuk team work. 


Salam Literasi,

By : Yuanitas Anis Isnaini
Iklan ada di sini

Komentar

Kontak Kami

Kirim

Archive