AADF#1: Bagaimana Layang-Layang Dapat Terbang?
Hallo.. Selamat
pagi, siang, dan malam kepada pembaca setia blog HIMAMUJA. Bagaimana kabarnya
hari ini? Semoga dalam keadaan yang baik-baik saja yaa. Dan untuk yang mungkin
sedang tidak baik-baik saja, semoga segera diberikan titik terang dan semangat J
Yupss! Pada tulisan ini, saya akan mengajak
teman-teman semua untuk belajar bersama, mencoba mengenal dan memahami alam di
sekitar kita dengan tinjauan ilmu fisika. Sejujurnya, tulisan ini mungkin
sedikit terlambat, tapi kata orang bijak sih “Lebih baik terlambat daripada
tidak sama sekali” hehe.. Jadi yukk langsung saja ke pembahasannya.
...
Seperti yang
teman-teman ketahui, beberapa bulan belakangan ini hampir seluruh masyarakat
dari berbagai wilayah di Indonesia sedang digemparkan dengan adanya permainan
layang-layang. Layang-layang sendiri merupakan lembaran yang tipis dan memiliki
kerangka yang dapat diterbangkan ke udara dan terhubung dengan seutas tali ke
suatu daratan dengan seorang pengendali. Layang-layang ini memanfaatkan
kekuatan angin sebagai sarana pengangkatnya. Selain dinilai dapat mengurangi
rasa bosan akibat work/school from home, ternyata permainan
layang-layang ini tidak mengenal batasan usia. Jadi, bisa banget nih dimainkan mulai
dari anak-anak sampai orang dewasa. Namun, tahukah kamu, Bagaimana
layang-layang dapat terbang?
Bagaimana layang-layang dapat terbang?
Layang-layang
dapat terbang dikarenakan adanya Gaya Angkat Aerodinamis, gaya ini sama
dengan gaya yang menyebabkan pesawat bisa terbang. Gaya angkat tersebut didapat
dari perubahan kecepatan udara yang melawan layang-layang. Ketika angin yang
berhembus dengan kecepatan v terhalang oleh bidang diam (misalnya
permukaan layang-layang) maka akan terjadi energi kinetik yang mengangkat
layang-layang[1].
Emmm
bentar-bentar.. Maksudnya gimana nih? Berat banget bahasanya L
Okay, begini. Saat
menerbangkan layang-layang, akan ada tiga kekuatan yang bekerja pada fenomena
tersebut:
1.
Kekuatan
angin yang mendorong layang-layang ke atas dan ke belakang,
2.
Kekuatan
tali layang-layang yang mendorong layang-layang ke depan dan ke bawah, dan
3.
Gaya
gravitasi bumi yang menarik layang-layang lurus ke bawah.
Ketika kita
menarik tali layang-layang ke arah kita, maka kita telah memaksa angin untuk
mengeluarkan jurusnya yaitu mendorong layang-layang untuk bergerak ke
atas dan ke belakang. Itulah mengapa kita dapat melihat dan menerbangkan
layang-layang semakin dan semakin tinggi lagi.
Apakah layang-layang akan terus naik dan terbang tinggi?
Jawabannya adalah
tentu tidak. Akan ada saatnya dimana layang-layang itu tetap berada pada
ketinggian tertentu. Pada keadaan itulah layang-layang telah mencapai
ekuilibrium atau titik setimbangnya. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan
yang saling mempengaruhi berada dalam keadaan seimbang, gaya dorong tali
layang-layang ke depan sama dengan kekuatan angin yang mendorong ke belakang
dan gaya angkat angin ke atas sama dengan gaya gravitasi bumi.
Jadi, Kapan nih waktu yang tepat untuk menerbangkan layang-layang?
Ya tentunya kalau
ada angin yang berhembus dengan kecepatan angin yang ideal kurang lebih seperti
kecepatan saat kita bersepeda[2]. Apabila angin bertiup terlalu
lemah, maka layang-layang akan sulit untuk terbang seperti yang kita inginkan. Selain
memperhatikan kekuatan angin, kita juga harus memperhatikan kekuatan
tali/benang layang-layang. Jika benang layang-layang putus, layang-layang tak
mungkin “terbang” melainkan melayang mengikuti arah angin untuk kemudian jatuh
ke bumi akibat adanya gaya gravitasi bumi yang melebihi gaya angkat aerodinamis.
Referensi:
[1] Mashinta, A.,
Rosa, F.O., dan Jumadi. (2017). Ada Apa dengan Fisika?. Yogyakarta: UNY
Press.
[2] Miriati, A.
(2020). Ini Penyebab Layang-Layang Bisa Terbang di Langit, Salah Satunya Karena
Gravitasi. https://bobo.grid.id Diakses pada 5 November 2020 jam 09.00 WIB.
Salam Literasi,
By :
Upik Laila Hanum
Pendidikan Fisika
KKN UNY 2020

Komentar