Dampak dan Peran Komunikasi Media Massa Dalam Perubahan Budaya dan Perilaku Masyarakat

Dampak dan Peran Komunikasi Media Massa Dalam Perubahan Budaya dan Perilaku Masyarakat

ABSTRAK

Di era industrialisasi mempengaruhi kompleksitas sistem sosial masyarakat. Perkembangan media massa semakin berkembang pesat ketika terjadi perubahan drastis dalam teknologi komunikasi. Pesatnya kemajuan sistem teknologi informasi, telah memberikan dampak negatif maupun positif terhadap perubahan global dan signifikan bagi pola hidup masyarakat. Komunikasi massa merupakan komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak maupun elektronik yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang melembagakan dan ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat, anonim dan heterogen. 

Laju perkembangan komunikasi massa begitu sangat cepat dan memiliki bobot nilai tersendiri pada setiap sisi kehidupan sosial budaya yang sarat dengan perubahan perilaku masyarakat. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasipun turut menentukan, memelihara, dan  mewariskan budaya. "Budaya adalah komunikasi" dan "komunikasi adalah budaya". Perkembangan dan modernisasi industrialisasi komunikasi massa, mengalami kemajuan yang sedemikian pesat. Perkembangan media massa semakin pesat ketika terjadi perubahan drastic dalam teknologi komunikasi. Perkembangan industri media ini tak terelakkan. Komunikasi massa menyebabkan sebuah perubahan sosial budaya yang memiliki dampak positif dan negatif.. dampak positif menciptakan hal-hal baru, mempermudah komunikasi masa yang tradisional ke lebih modern. Dampak negatifnya ialah dimana seseorang lebih memilih berkomunikasi melalui media massa dibandingkan secara langsung.

Kata kunci: Media massa, budaya, perubahan sosial budaya


PENDAHULUAN

Dampak dan efek perkembangan media menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial-budaya dan perilaku di masyarakat. Pesatnya kemajuan sistem teknologi informasi, telah memberikan dampak positif mapun negatif terhadap perubahan global dan signifikan bagi pola hidup masyarakat, termasuk didalamnya para generasi muda yang notabennya adalah tulang punggung harapan bangsa, dengan berbagai imajinasi dan daya kreatifitasnya telah mampu menciptakan serta menikmati hasil dari kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Sifat kompleksitas item sosial budaya masyarakat mempengaruhi sistem budaya informasi dan komunikasi yang semakin harus bisa mengikuti perkembangan dinamika masyarakat. Dengan percepatan industrialisasi mesin cetak, informasi, dan proses komunikasi semakin menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat, Ini menandai juga perkembangan media massa sebagai salah satu bagian dalam proses komunikasi massa menjadi satu hal yang penting.

Dapat dikatakan bahwa modernisasi industri media, masyarakat berikut sistem sosial yang terbentuk di dalamnya juga menjadi bagian integral dalam perkembangan komunikasi massa. Dengan kata lain, pemahaman manusia mengenai komunikasi massa, tidak lagi diletakan pada perspektif tunggal, dalam arti bahwa media komunikasi massa tidak dilihat sebagai suatu identitas mandiri, melainkan suatu industri yang didalamnya terdapat totalitas yang saling berinteraksi dinamis antara pelaku media, masyarakat dan negara. Media komunikasi massa telah memainkan peran yang cukup besar dalam perubahan budaya dan perilaku masyarakat Indonesia pada umumnya.

Cepatnya perkembangan informasi saat ini telah banyak memberikan informasi bagi semua kalangan yang membutuhkan maupun yang tidak. Maka tak salah bila dikatakan bahwa tata nilai sosial dan budaya kita berubah seiring dengan derasnya laju informasi yang melanda kita. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat, menurut Melville J Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri

Sedangkan Andreas Eppink dalam Budaya berpendapat, bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, serta segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak, Perwujudan kebudayaan dalam bentuk benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, religi, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan masyarakat.

PEMBAHASAN

1.1 Komunikasi dan komunikasi massa

Kata komunikasi berasal dari kata latin "communis" yang memiliki arti sama. Komunikasi mensyaratkan bahwa satu pikiran, satu makna dan satu pesan dianut sama yang merujuk pada berbagai hal dengan pengalaman, sehingga komunikasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme yang menyebabkan adanya hubungan antar manusia dan yang memperkembangkan berbagai lambang pikiran, bersama-sama dengan sarana penyiarannya dalam ruang dan merekamnya dalam waktu (Charles Cooley, 1909). Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa bicara, sinyal, tulisan, gesture, dan broadcasting. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaftif, bertujuan atau tak bertujuan. 
Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut. Komunikasi membawa hubungan manusia dari hakekat ke eksistensi, yang sama, tanpa komunikasi hubungan manusia bagaikan citra tanpa bentuk. Didalam melakukan komunikasi, terdapat beberapa hambatan, yang bisa menyebabkan komunikasi tidak efektif  (Stephen P. Robin, 2001), yaitu: 
Penyaringan; hal ini mengacu ke pengirim yang memanipulasi informasi sedemikian rupa sehingga akan tampak lebih mennguntungkan dimata si penerima.
Persepsi selektif; dengan persepsi kita kita tidak melihat realitas, melainkan hanya menafsirkan apa yang kita lihat dan terkadang menyebutnya sebagai realitas. Langsung memberikan tafisran tanpa ada bukti.
Sedangkan pengertian komunikasi massa merupakan komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak maupun elektronik yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang melembagakan dan ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat, anonim dan heterogen (Dedy Mulyana, 2000). Maksud dari pengertian tersebut, salah satu jenis dari bentuk komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, bermacam-macam dan tanpa nama melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Maksud dan tujuan komunikasi setidanya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, mengaktualisasikan diri dan untuk kelangsungan hidup agar memperoleh suatu kebahagiaan atau kesejahteraan. Untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis fungsi isi yang melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas dan berfungsi terhadap hubungan yang melibatkan pertukaran informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain. Dengan informasi yang dihasilkan oleh adanya komunikasi berguna untuk memberikan dan memperoleh pengetahuan serta wawasan global dalam perubahan lingkungan sosial, budaya serta perkembangan kehidupan manusia kearah yang lebih baik dan kemudahan serta dapat memberikan manfaat yang menyeluruh bagi masyarakat baik dari kalangan rendah maupun kalangan tinggi.
Hakekatnya komunikasi terdiri dari dua kategori, komunikasi langsung dan komunikasi tidak langsung (Stephen R. Covey, 1997). Dalam pembahasan ini, media komunikasi massa merupakan kategori komunikasi tidak langsung. Dari berbagai definisi tentang komunikasi dan komunikasi massa, terdapat beberapa karakteristik media komunikasi masa, yang diantaranya adalah:
  1. Komunikasi massa bersifat umum. Pesan komunikasi yang disampaikan melalui media massa terbuka dan dapat dinikmati bagi semua orang. Namun demikian jarang diperoleh pesan yang benar-benar transparan. Penyebabnya adalah faktor-faktor yang bersifat paksaan dan dikenakan dengan sengaja, atau faktor yang timbul karena struktur sosial. Sebagai contoh dari karakteristik komunikasi massa bersifat umum ini adalah RRI (Radio Republik Indonesia) yang selama 32 tahun lamanya radio siaran pemerintah dan sering digunakan untuk menyiarkan berita berita tentang berbagai macam keberhasilan pembangunan di masa Orde Baru. Namun setelah tampuk pemerintah berganti, kini RRI dibawah naungan Departemen Keuangan dan berubah statusnya menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan). 
  2. Komunikasi massa bersifat heterogen. Massa terdiri dari orang-orang yang heterogen, merupakan perpaduan antara jumlah komunikasi massa yang besar dengan keterbukaan dalam memperoleh pesan-pesan komunikasi, erat hubungannya dengan sifat heterogen komunikan. Lebih jelasnya, komunikasi massa adalah sejumlah orang yang disatukan oleh suatu minat yang sama dan mempunyai bentuk tingkah laku yang sama serta terbuka bagi pengaktifan tujuan yang sama, meski orang-orang yang berhubungan tersebut tidak saling mengenal,saling berinteraksi.

1.2 Dampak dan faktor komunikasi massa terhadap perubahan budaya

Bila kita renungkan bersama, bahwa ternyata media komunikasi massa, baik cetak maupun elektronik telah mengubah budaya masyarakat dari tradisional ke budaya modern. Tapi yang menjadi pertanyaan disini, seberapa jauh leran komunikasi massa dapat merubah budaya yang telah lama tertanam dimasyarakat, dan mengapa bisa terjadi demikian?
Laju perkembangan komunikasi massa begitu cepat dan memiliki bobot nilai tersendiri pada setiap sisi kehidupan sosial budaya yang sangat erat dengan perubahan perilaku masyarakat. Komunikasi massa memiliki fungsi yang berbeda-beda. Komunikasi massa berfungsi mengisyaratkan untuk membangun konsep diri dan pengaktualisasian diri.

Saat melakukan komunikasi lintas budaya, kemungkinan besar akan terjadi banyak  hambatan lintas budaya, yang disebabkan oleh konotasi kata, semantik, perbedaan nada dan perbedaan persepsi. Disamping itu, terdapat pula konteks budaya yang dapat dicapai dengan mempertimbangkan konsep-konsep tentang budaya konteks tinggi (high context), yakni budaya yang sangat mengandalkan isyarat situasional yang halus dan non-verbal dalam berkomunikasi, serta budaya konteks rendah (low context) yang sangat mengandalkan kata-kata penyampaian makna dalam berkomunikasi (Stephen R. Robin, 2001).

Era industrialisasi mempengaruhi kompleksitas sistem sosial masyarakat. Setidaknya terjadi proses mekanisasi dan massifikasi faktor produksi, distribusi dan konsumsi masyarakat. Ini berarti terjadi akselerasi kompleksitas budaya masyarakat yang ada. Komunitas masyarakat tidak lagi dilihat dalam satu proses kebudayaan yang sederhana melainkan komunitas masyarakat dilihat sebagai sistem budaya yang mempunyai tingkat budaya yang lebih kompleks. Dalam bentuknya yang mulai modern, teori masyarakat dan fungsi media massa dalam perspektif empiris-kritis melihat secara optimis persepsi yang berkembang dalam masyarakat atas perkembangan media massa. Artinya, bahwa masyarakat ternyata juga mempunyai kemampuan untuk mengontrol media massa beserta dampak-dampaknya.

Dari pemahaman yang didapat, terlihat bahwa media massa berperan untuk membentuk keberagaman budaya yang dihasilkan sebagai salah satu akibat pengaruh media terhadap sitem nilai, pikir dan tindakan manusia. Pada titik tertentu, masyarakat massa mengembangkan sitem budaya massa. Dalam konteks yang hampir sama, terlihat dua ragam budaya massa yang bisa dihasilkan oleh masyarakat. Disatu pihak, budaya dalam konteks masyarakat massa dengan didukung oleh media massa dilihat sebagai wujud cair dan mampu menghegemoni sebuah masyarakat (terlihat bagaimana media mampu membentuk selera masyarakat atau membentuk cara pandang tertentu terhadap sebuah realitas, dll). Tapi di lain pihak, budaya dalam konteks masyarakat harus dilihat sebagai wujud yang juga turut membentuk media massa.

Pada fungsi komunikasi kultural, budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi dan sebaliknya komunikasipun turut menentukan, memelihara, mengembangkan, atau mewariskan budaya. “Budaya adalah komunikasi” dan “komunikasi adalah budaya” (Edward T.Hall), keduanya mempunyai hubungan timbal balik. Media komunikasi massa dalam perubahan budaya juga berfungsi dalam menyampaikan pesan-pesan ritual yang bisanya dilakukan secara kolektif. Seperti memberitahukan atau menyiarkan perayaan hari besar agama, upacara-upacara ritual, dan upacara perkawinan.

Selain itu, fungsi komunikasi massa juga mengandung muatan persuasif, dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengar untuk mempercayai fakta dan informasi yang disampaikan akurat dan layak untuk diketahui, terkadang yang medidik bisa menghibur dan yang menghibur bisa mendidik sekaligus menerangkan dan secara halus bersifat membujuk.

Media massa juga memiliki peranan penting dalam membentuk moral bangsa, diantaranya dalam pembentukan jati diri generasi bangsa dan mengubah struktur sosial masyarakat yang mendapat dukungan dari nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan. Nilai –nilai atau norma-norma tersebut menjadi unsur-unsur kepribadian para anggota masyarakat, yang dinamakan “super ego” seseorang. Misalnya saja, dengan adanya akulturasi akan mendorong masyarakat untuk beradaptasi dan mensosialisaikan diri untuk menghadapi perubahan tersebut. Manusia, tidak akan lepas dari yang namanya ‘komunikasi’, terlebih   berkomunikasi melalui media massa yang dalam setiap penyampaian atau penyiarannya memuat pesan-pesan penting dan merupakan suatu pengetahuan.

Diharapkan, media komunikasi massa tidak hanya menyampaikan dan mengambil keuntungan komersial saja dari hasil tersebut bila banyak komunikan yang menyimaknya, tetapi harus mampu menyampaikan pesan moral yang mendidik para generasi bangsa, serta berpartisipasi dalam proses pendewasaan pemikiran dan sikap bangsa Indonesia pada khususnya. Melalui media massa, banyak generasi muda yang memilih gaya hidup (life style) yang kebarat-baratan, seperti cara berpakaian, dan lebih mencintai musik korea (kpop).

Media komunikasi berkembang sebenarnya juga disebabkan oleh adanya perubahan sosial budaya, karena perubahan sosial budaya tersebut media komunikasi semakin berkembang pesat. Dapat dilihat dahulu seseorang berkomunikasi jarak jauh hanya menggunakan surat menyurat berupa kertas yang ditulis kemudian di antar ke pak pos dan akan sampai pada tujuan setelah beberapa hari kemudian. Berbeda setelah terjadi perubahan sosial budaya. Setelah terjadi perubahan sosial budaya media komunikasi menjadi lebih maju, seseorang berkomunikasi jarak jauh lebih praktis hanya perlu menggunakan HandPhone (HP) lalu melakukan sebuah sms dan beberapa detik kemudian sampai kepada penerima sms tersebut.

Hal tersebut merupakan dampak dari perubahan sosial budaya yang positif, disisi lain perubahan sosial budaya memiliki dampak negatif seperti, setelah media komunikasi berkembang pesat orang-orang lebih suka bermain HandPhone (HP) dari pada berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Bahkan menjadikan seseorang menjadi malas karena sudah terlalu mencintai HandPhone (HP) yang serba praktis. Seseorang berkomunikasi malah lebih memilih melalui media-media komunikasi yang sebenernya terkadang berkomunikasi langsung itu diperlukan untuk saling berinteraksi. Namun, karena kepraktisanya mereka lebih memilih media komunikasi tersebut. 

Media elektronika, utamanya audio-visual telah terbukti mempercepat proses imitasi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini telah terjadi kontak sosial yang luas melalui suatu media, baik cetak maupun elektronika. Media komunikasi massa merupakan kontak sekunder yang menyebabkan terjadinya pesan dari komunikator kepada komunikasi melalui pihak ketiga yakni media massa. Kemungkinan bisa terjadi kesalahan komunikasi atau distorsi, antara kominukator dan komunikan. Namun juga masih banyak pula perubahan tersebut membawa diri kita pada kondisi yang lebih baik dan maju dibanding sebelumnya. Banyaknya pengaruh budaya asing yang masuk melalui media komunikasi massa seharusnya disesuaikan dengan kebudayaan dan etika kehidupan kita sebagai bangsa timur.

1.3 Hubungan komunikator-komunikan bersifat non pribadi

Pada komunikasi massa hubungan antara komunikator dan komunikan bersifat non-pribadi yang anonim dapat dicapai oleh pribadi-pribadi yang dikenal hanya dalam perannya bersifat umum sebagai komunikator. Sifat non pribadi ini timbul sebagian yang disebabkan oleh teknologi dari penyebaran yang sifatnya massal dan sebagian lagi dikarenakan yang bersifat umum. Beberapa model komunikasi massa sebagai suatu cara yang dipakai oleh komunikator untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada para komunilkan yang ditaju Rogers (1971): 
Model Jarum Hypodermik, hakekatnya adalah model komunikasi searah, berdasarka  anggapan bahwa massa media memiliki pengaruh langsung, segera dan sangat menentukan terhadap audience, yang secara harfiah model jarum Hypodermik memiliki arti "dibawah kulit", menurut Elihu Katz, bila dihubungkan dengan komunikasi massa mengandung anggapan dasar bahwa mass media menimbulkan efek yang kuat, terarah, segera dan langsung terhadap massa.
Model komunikasi dua tahap, berasal dan penelitian laza rfeld. Berelson dan Gaudet di tahun 1948, yang menyatakan balhwa ide -ide seringkali datang dari radio, surat kabar yang ditangkap oleh opinian leaders. Selain itu hasil penelitian pada tahun 1940, ide atau gagasan senantiasatersebar melalui radio dan media cetak dan diterima oleh pemuka pendapat, melalui pemuka inilah ide tersebut tersebar keseluruh anggota masyarakat.

1.4 Efek Komunikasi Massa Terhadap Perubahan Perilaku Masyarakat

“Hidup tanpa perubahan berarti mati, dan perubahan tanpa kemajuan berarti sia-sia”. Dari pernyataan tersebut dapat direnungkan bahwa efek yang ditimbulkan dari berbagai macam media komunikasi massa telah banyak mengubah kehidupan kita. Kehidupan yang berkembang menuju pada kemudahan dan kemajuan, ataukah menuju arah kekemunduran. Itu semua tergantung pada subyek pelaksana.

Diakui atau tidak, proses materi dan bentuk dari komunikasi massa telah banyak menimbulkan pergeseran nilai serta mengubah dan mempengaruhi pola pikir dan perilaku hidup kita. Misalnya saja jadwal penayangan sinetron televisi di pagi hari, yang budayanya seseorang perempuan mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi waktunya tersita untuk menikmati acara tersebut. Dari contoh kecil tersebut, terbukti bahwa media massa dan elektronika khususnya, telah mengubah perilaku hidup kita, yang sebelumnya telah menjadi kebiasaan atau rutinitas. Sehingga proses penyampaian pesan atau informasi dari media komunikasi massa diharapkan harus sesuai sasaran, bila proses penyampaian tersebut hanya mementingkan aspek komersial saja, saya yakin tidak akan terjadi perubahan menuju kemajuan, tetapi sebaliknya hanya berakibat pada kemunduran, khususnya kemunduran pada moral bangsa.
Contoh lain, mungkin mengenai materi yang disajikan berupa kejahatan, kekerasan,  demonstrasi yang berbau anarki dan pergaulan bebas akan menyebabkan hilangnya norma-norma kesusilaan, kesopanan, hukum dan agama, yang saat ini tidak hanya marak di media televisi, namun media elektronika lain seperti mobille phone (HP) dan internet inipun ternyata membawa dampak negatif bagi perilaku masyarakat Indonesia saat ini, ditambah lagi dengan kondisi perekonomian bangsa yang serba sulit. Bahkan, sebenarnya tontonan tersebut tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak dibawah umur yang secara tidak langsung telah dilihat mereka dalam kesehariannya yang menyebabkan mereka akan mencontoh tontonan yang tak layak tersebut. 
    
 Demikian pula internet yang kehadirannya menggantikan interaksi seseorang secara langsung menjadi lebih memilih dengan Hand Phone (HP). Misalnya dalam masyarakat untuk mengundang pengajian biasanya seseorang yang mengadakan pengajian akan mendatangi rumah-rumah yang diundang secara langsung dengan berinteraksi seperti berbincang-bincang, namun sekarang lebih memilih menggunakan Hand Phone (HP) yang disambung ke internet.

Inilah salah satu penyebab perubahan perilaku sebagian generasi yang tidak sesuai dengan tata nilai dan norma-norma yang berlaku. Sehingga hilang ciri khas bangsa indonesia yang ramah, sopan, santun dan berbudaya di mata dunia. Untuk itu, proses penyajian dan materi dari media massa hendaklah yang berkualitas dan disesuaikan dengan kondisi sosial budaya kita agar dapat terjadi perubahan yang stabil dan dinamis menuju perbaikan masyarakat  Indonesia. Namun disisi lain dari meluasnya media komunikasi massa juga mempunyai dampak positif yang berguna bagi khalayak umum. Misalnya dengan adanya whats up, kita mendapat informasi menjadi lebih cepat, tidak perlu membutuhkan waktu berhari-hari. 

Selain itu, di bidang industri juga telah mengalami perkembangan pesat, dikarenakan oleh sistem komunikasi telah mempunyai dasar yang kuat. Kemajuan tersebut telah tercatat dalan pengembangan media massa dan dapat disaksikan pada semakin pesatnya pertumbuhan industri komunikasi yakni periklanan, marketing research, dan pertumbuhan usaha - usaha hubungan antara dari segi sosial ekonomi. 

Adanya teknologi-teknologi baru di tempat kerja, digunakan untuk mengganti tenaga kerja manusia dengan permesinan dalam mengubah masukan menjadi keluaran. Sebagaimana kita ketahui, dalam seperempat abad terakhir ini, yang menjadi penggerak utama dalam merekayasa ulang tempat kerja kontemporer, dalam hal ini semua media elektronik dan sistem informasi yang sudah terkomputerisasi, sebagai contoh adanya mesin kasir otomatis, telah menggantikan puluhan ribu kasir manusia di dunia perbankan, lalu dengan adanya teknologi baru seperti teraktor memudahkan para petani budaya dahulu bertani menggunakan kerbau atau sapi sekarang dapat menggunakan mesin teraktor. Dari contoh tersebut, terlihat bahwa dampak dari adanya perkembangan teknologi tersebut, menimbulkan perubahan perilaku orang di tempat kerja dan mempengaruhi kehidupan kerja para karyawan.

Dapat dikatakan pula, bahwa tidak ada bidang teknologi yang lebih mengubah suatu organisasi atau institusi, dibanding teknologi elektronika (Stephen R. Robin, 2001). Sebagaimana saat ini, munculnya e-commerce, e-bussiness, telah menjadi bagian dari organisasi elektronik (e-organization) serta pengaruhnya terhadap perilaku individu dan kelompok di tempat kerja. Dari kemajuan media ektronik tersebut, berakibat pada perilaku karyawan dalam menggunakan fasilitas selama jam-jam kerja formal untuk menjelahi website yang tidak terkait dengan pekerjaan, misalnya untuk mengirim e-mail pribadi, perilaku ini sering disebut dengan Cyberloafting.

Apabila kita lihat dari perilaku budaya masyarakat kita saat ini, dengan berbagai komunikasi massa, mereka telah dapat melihat, menginginkan serta menikmati kemudahan kemudahan disiarkan oleh berbagai media massa baik cetak maupun elektronika. Deskripsi tersebut dapat kita ketahui bersama bahwa efek komunikasi massa sangat berpengaruh pada tingkat kehidupan manusia yang meliputi perilaku ditempat kerja. kepribadian, dan sifat sifat dari masyarakat pada umumnya. Diakui atau tidak, proses materi dan bentuk dari komunikasi massa telah banyak menimbulkan pergeseran nilai serta mengubah perilaku. 

Kesimpulan

Dari pemaparan tersebut, dapat saya simpulkan bahwa, komunikasi merupakan suatu tindakan (act) yang selalu dilakukan dan sangat penting untuk menyelaraskan pemikiran, makna, dan pesan yang disampaikan komunikatif kepada komunikan. Dapat dikatakan pula, komunikasi sebagai transfer atau proses pemindahan ide, pesan dan informasi dari komunikator kepada komunikan baik secara langsung maupun menggunakan perantara. Perantara yang dimaksud disini adalah media, maka muncul istilah media komunikasi massa, yang terdiri dari media cetak dan media elektronika. 

Dalam perkembangannya, komunikasi massa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perubahan budaya dan perilaku baik pola pikir maupun pola hidup masyarakat yang terangkum dalam suatu perilaku. Media komunikusi massa mempunyai peranan penting dalam membentuk jati diri bangsa, disamping itu pula, memiliki peran yang dapat mengubah budaya di masyarakat sehingga nilai serta norma -norma terkadang melenceng dari aturan yang telah lama melekat dan akhirnya menjadi pandangan hidup bangsa. Dampak dari perubahan budaya pada komunikasi massa memiliki dampak positif dan negatif, dimana kita harus pintar menyikapi adanya perkembangan komunikasi massa yang semakin marak. Dampak positif diambil hikmahnya dan dari dampak negatif bisa dijauhkan agar komunikasi massa dapat berjalan sesuai dengan manfaat dan tujuannya. 

REFERENSI

Aw, Suranto. 2012. Komunikasi Sosial Budaya, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Depari, Edward & Collin Mac Andrew. 1995. Peranan Komunikasi Massa Pembangunan Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Setiadi, Elly M. usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi, Kencana, Jakarta.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 


Salam Literasi,

By : Arien Seanita Annasya
Iklan ada di sini

Komentar

Kontak Kami

Kirim

Archive