Perkembangan dan Sistem Pendidikan Sekolah Bersubsidi di Indonesia Zaman Kolonial Belanda

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia. Pendidikan juga diperlukan jika ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Tanpa adanya pendidikan maka akan menimbulkan banyak kerugian, kegagalan, baik dari invidu mapun kegagalan suatu bangsa. Maka dari itu kita para generasi muda perlu untuk memperhatikan sebuah pendidikan. Pendidikan di Indonesi sendiri melalui tiga tingkatan masa yaitu masa tradisional, masa kolonial, dan masa kemerdekaan. Pendidikan di masa kolonial didirikan dengan alasan kepentingan kolonial sendiri.  Penyelenggaraan pendidikan masih bersifat diskriminasi dapat dilihat dari dibedakannya antara bangsa eropa dengan orang pribumi. Belanda mendirikan beraneka ragam sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dengan sistem pengajaran Belanda.

Sebelum pemerintah Kolonial Belanda melaksanakan sekolah di Jawa, di luar Jawa telah ada sekolah khusus untuk bangsa yang beragama Kristen. Namun, keadaan sekolah tersebut tidak terpelihara. Semenjak Belanda menggantikan kedudukan VOC, kembalinya berkuasa di Belanda (sesudah tahun 1816), mulai timbul pemikiran untuk mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak pribumi untuk mendidik tenaga yang dapat mengisi jabatan-jabatan pemerintah, terutama dikantor residen. Belanda sangat membutuhkan tenaga kerja yang terdidik dengan biaya yang murah. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan pekerja dan pegawai yang terdidik serta terampil menjadi lebih meningkat. Tanpa adanya bantuan penduduk bumiputra yang terdidik, pemerintahan Belanda merasa tidak dapat berhasil dalam pembangunan ekonomi yang akan lebih maju dan berhasil. Untuk memperoleh pendidikan berawal dari diselenggarakannya tidak secara resmi oleh Pemerintah Belanda. Anak-anak orang terkemuka setempat diambil untuk dijadikan murid-murid dan tempat mengajarnya berada di rumah residen sehingga waktu pembelajarannya siang setelah kantor yang untuk bekerja tutup. Gurunya biasanya berasal dari pegawai keresidenan Eropa.

Sistem pendidikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda secara tidak langsung didirikan lagi-lagi untuk kepentingan pemerintah Hindia Belanda dan diberikan berbeda-beda serta terbatas berdasarkan ras ataupun etnis kedudukan sosialnya. Penyelenggaraan dibedakan antara untuk anak-anak Eropa, anak-anak Timur Asing, dan anak-anak pribumi. Selain itu terdapat juga perbedaan menurut status sosial, yaitu priyayi dan pribumi pada umumnya. Pemisah menurut golongan masyarakat dan status sosial dipertegas dengan penggunaan bahasa pengantar yaitu Bahasa Belanda untuk golongan Eropa dab elite pribumi, sedangkan Bahasa Melayu untuk golongan pribumi.

Adanya sekolah di Hindia Belanda dapat dikatakan sangat terbatas. Dapat dilihat dari jumlah anak-anak pribumi yang dapat membaca dan menulis tidak sebanding dengan anak-anak yang buta huruf. Terdapat banyak kecaman kepeda Pemerintah kolonial dari politis Belanda, seperti van Deventer, Van den Berg, dan masih banyak lagi. Para politis tersebut memaksa Pemerintah kolonial untuk mengupayakan perbaikan dalam segi kehidupan, lapangan pendidikan bagi rakyat Hindia Belanda. Perbaikan dalam bidang pendidikan dikarenakan pemerintah kolonial sangat membutuhkan orang-orang yang dapat membaca dan menulis serta memiliki pengetahuan.

Penyelenggaraan sekolah dibedakan antara golongan Eropa, golongan Timur Asing (Cina dan Arab), dan golongan Pribumi. Terdapat dua aliran pemikiran mengenai jenis pendidikan, yang pertama dari Snouck Hurgronje dan direktur pendidikan etis yang pertama J.H. Abendanon. Mereka menginginkan pendidikan lebih bergaya Eropa dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Aliran yang ke dua Idenburg dan Gubernur Jendral van Huetsz mendukung pendidikan kalangan bawah dengan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar bagi golongan bawah. Sekolah kelas I didirikan untuk anak-anak lingkungan Pamong Praja ditempatkan di tempat Keresidenan. Kemudian sekolah kelas II (tweede klasse) ditempatkan di kota-kota Kabupaten. Sekolah Kelas I diperuntukkan untuk golongan atas, sedangkan sekolah Kelas II untuk rakyat golongan bawah. Orang-orang dari Hindia Belanda kini lebih luas untuk memperoleh pembelajaran Bahasa Belanda. Sekolah Kelas I berada dalam sistem pendidikan pribumi, tadak ada kesempatan untuk orang Indonesia untuk melompat dari sistem Eropa lanjutan. Oleh sebab itu, Kelas Satu diubah namanya menjadi HIS (Hollandsch Inlandsche). Sekolah Belanda Pribumi yang telah diperuntukkan bagi bangsa Indonesia dari golongan atas atau disebut sekolah dasar. Serta dibukanya HCS (Hollandsch Chineesche School). Pada awal abad 20 telah diperkenalkan pemerintah Belanda di Keesidenan Kedu adalah Sekolah Desa (volkschool) dengan bahasa pengantar ialah bahasa daerah. Terdapat pula sekolah-sekolah kejuruan serta sekolah-sekolah lanjutan seperti MULO, AMS, HBS, dan masih banyak lagi yang dibangun di Indonesia di setiap kota-kotanya.

PEMBAHASAN

1.1 Kondisi dan perkembangan pendidikan zaman Hindia Belanda

Kondisi dan perkembangan kolonial Belanda Sebelum Indonesia dikuasai Belanda, semenjak itulah pendidikan di Indonesia sudah dimulai. Pada waktu itu pendidikan pribumi hanya mengenal satu jenis pendidikan yang sering disebut dengan lembaga pengajaran asli yaitu sekolah agama Islam dalam berbagai bentuknya seperti langgar dan pesantren. Di tempat itulah murid-murid belajar membaca Al-Qur’an serta mempelajari kepercayaan dan syariat agama Islam. pada awal abad XX, dengan peraturan pemerintah tahun 1818, kemudian pemerintah Belanda Memperbolehkan orang-orang pribumi memasuki sekolah-sekolah Belanda. Pemerintah juga akan segera menetapkan peraturan-peraturan tata tertib mengenai sekolah-sekolah bagi penduduk pribumi.


Peraturan pemerintah (regeeringsreglement)  dimulai pada tahun 1818 dengan isi peraturan tersebut berhubungan dengan perguruan untuk pribumi. Namun, karena pemerintah kolonial kekurangan uang maka semua itu tidak jadi terlaksana, dan uang yang menglir seluruhnya diberikan bagi kas negeri induk. Untuk mendirikan sekolah-sekolah bumi putra pada tahun 1848 ditetapkan bahwa tiap tahun dari anggaran belanja diambil uang sebesar f.25.000. Tapi sekolah tersebut tidak untuk kemajuan rakyat, malahan hanya untuk keperluan pemerintah untuk “mencetak ambtenaar” ambtenaar ini nantinya harus bekerja sebagai mandor lain-lain di kebun milik pemerintah.


Pemerintahan Hindia Belanda sesudah tahun 1850 diwajibkan untuk memperhatikan sekolah-sekolah bagi orang-orang Eropa. Untuk sistem pendidikan di sekolah tersebut, mereka menggunakan sistem yang berlaku di Belanda. Syarat-syarat untuk bumiputra bisa bersekolah disekolah tersebut sangat berat dan harus dipenuhi. Pertama, hanya bumi putra yang beragama nasrani yang boleh masuk sekolah Eropa. Pada tahun 1863 sekolah dibuka untuk anak-anak bupati dan tahun 1864 dibuka untuk segenap bumiputra, akan tetapi harus memenuhi semua syarat yang telah ditentukan oleh Gubernur Jendral.
Gymnasium Willem III didirikan pada tahun 1860 di Jakarta. Sekolah ini tetutup bagi bumi putera. Pada tahun 1874 bumiputra dapat memasuki sekolah ini. Pada saat itu hanya ada dua sekolah di mana bumi putra sesudah tamat sekolah rendah, dapat meneruskan pelajarannya yaitu Dokter Djawa School dan Kweekschool (sekolah guru). Sekolah ini untuk memenuhi kebutuhan pemerintah yang kekurangan banyak tenaga medis dan tenaga pengajar, hal ini juga dikarenakan pengiriman guru dan tenaga dari negara induk banyak mengeluarkan biaya.


Politik cultuurstelsel yang digantikan oleh politik liberal membawa perubahan pula bagi pengajar di Hindia Belanda. Pada awalnya tujuan dari pengajaran adalah memenuhi kebutuhan akan ambteenar maka pada masa politik liberal kebutuhan akan tenaga kerja terdidik diperuntukkan bagi perkebunan-perkebunan swasta. Semua ini direncanakan oleh Koninklijk Besluit mulai tanggal 3 mei 1871 dan kebijakan yang bersekolah pun masih sama yaitu mereka yang merupakan keturunan bangsawan dan ambteenar dengan alasan bahwa pemerintah tidak mampu membiayai pendidikan bagi rakyat kebanyakan.


Perkembangan pengajaran sampai berakhirnya politik liberal masih melanjutkan upaya bagaimana memenuhi kebutuhan akan buruh yang murah namun terdidik. Pada tahun 1893 berdiri sekolah kelas I dan sekolah kepala negeri pada tahun 1878. Pada 1892 pendidikan sekolah dasar untuk pribumi dibagi menjadi dua yaitu sekolah angka siji untuk anak-anak priyayi dan sekolah angka loro diperuntukan untuk anak-anak rakyat kebanyakan. Dari sekolah tersebut dapat melanjutkan di sekolah rendah Eropa dengan masa belajar tujuh taun dan menuntut persyaratan bahasa Belanda. Perkembangan sekolah-sekolah bumiputra angka dua dan muridnya sejak tahun 1900 mengalami kenaikan mencapai 357970 sampai akhir tahun 1920. , dapat dilihat ditabel bawah.


Tahun

Jumlah Sekolah

Jumlah Murid

Negara

Swasta

Total

Negara

Swasta

Total

1900

551

836

1387

64742

36431

98173

1905

674

1286

1942

95975

66741

161816

1910

1021

2106

3127

133425

99204

232629

1915

1202

2198

3400

186300

134644

320974

1920

1845

2368

4213

241414

116556

357970

Tabel 1.  Jumlah Sekolah Bumiputra Angka Dua dan Murid

Meskipun sekolah gaya barat mengalami kenaikan yang pesat tetapi jumlah muird-muridnya tidak pernah besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Hindia Belanda dan orang-orang terpelajar hanya sebagian dari seluruh penduduk, hal ini dapat dilihat dari table dibawah

Anak-anak yang berumur

Jumlah

Yang mendapat pengajaran

Yang tidak mendapat pengajaran

6 – 9 tahun

4.803.600 (100%)

1.431.429 (29,8%)

3.372.200 (70,2%)

6 – 11 tahun

8.009.900 (100%)

1.623.745 (20,3%)

6.386.200 (79,7%)

6 – 13 tahun

11.216.339 (100%)

1.647.761 (14,7%)

9.568.578 (85,3%)

Tabel 1.  Perbandingan anak-anak yang bersekolah dan tidak bersekolah

Perkembangan yang selanjutnya adalah sekolah angka siji yang pada tahun 1914 berubah nama menjadi hollandsche Inlandsche school (HIS) dengan bahasa pengantar bahasa Belanda kemudian dilanjutkan sekolah lanjutan Belanda. Sebelum itu, banyak orang tua menyadari banyak manfaat pendidikan gaya barat dan cukup mampu menyekolahkan mereka ke Europeesche (ELS), sekolah dasar Eropa, yang kemudian setelah tamat dapat melanjutkan ke sekolah lanjutan Belanda seperti Hollandsche Burgerscholen (HBS), sekolah S.T.O.V.I.A atau sekolah menengah Belanda dan sekolsh dokter bumiputra dan pegawai bumiputra (O.S.V.I.A).

Memperluas pendidikan untuk rakyat banyak merupakan sebuah masalah keuangan yang sangat luar biasa, serta suatu cita-cita yang sama sekali tidak mendapat dukungan penuh dari kalangan pendukung-pendukung gagasan Ethis. Pada tahun 1904 van Heut sz mendapat jawaban untuk dapat mengurangi pengeluaran biaya yang cukup besar bagi kas kolonial. Sekolah-sekolah desa (volksscholen: sekolah rakyat) akan segera dibuka yang sebagian besar biaya ditanggung oleh penduduk desa sendiri, tetapi ada bantuan dari pemerintah jikalau perlu. Seperti adanya perbaikan ethis lainnya, pemerintah menetapkan yang terbaik bagi rakyat Indonesia dan setelah itu memberitahukan beberapa yang harus dibayarkan oleh rakyat demi perbaikan mereka. Di sekolah-sekolah tersebut akan diterapkan masa pendidikan tiga tahun dan mata pelajarannya, yang memberikan ketrampilan dasar membaca, berhitung, dan ketrampilan praktis, diajarkan menggunakan bahasa daerah serta dipungut uang sekolah.

Pemerintah kolonial membatasi penduduk pribumi yang dapat bersekolah dengan diferensiasi sosial baik secara ras maupun secara materi. Semua itu ditunjukkan agar mempertahankan hegemoni kekuasaan pemerintahan dan ekonominya di dalam tanah jajahan. Antonio Gramsci mengatakan bahwa Sifat ekonomi kapitalisme yang berkembang akan selalu di ikuti dengan struktur-struktur yang dapat memperkuat sistem tersebut, seperti struktur politik, struktur sosial, hukum dan kepolisian. Struktur pemerintah atau negara sendiri yaitu sebagai kekuatan represif dan layanan bagi klas yang dominan yaitu kelas borjuis.

Permasalahan dalam pendidikan merupakan bagian dari struktur sosial di dalam masyarakt Hindia Belanda. Pendidikan yang bergaya barat yang telah diadakan oleh pemerintah kolonial merupakan bagian dari tatanan kolonial yang terbagi secara rasional dan linguistik serta terpusat secara politik, yang menyebabkan pemerintah kolonial membatasi segala bentuk pencerdasan penduduk pribumi dengan membuat berbagai produk hukum yang mewajibkan masyarakat pribumi mengikuti garis politik Ethis yang sudah ditetapkan Hanya sedikit jumlah angka kelulusan yang dikarenakan sedikitnya kesempatan bersekolah bagi masyarakat pribumi dalam mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah lanjutan. Golongan kaya dan priyayi bangsawanlah yang dapat bersekolah tinggi bahkan hingga tingkat pendidikan.

1.2 Sekolah bersubsisi serta sistem pendidikan di Indonesia Zama Belanda.

Setelah adanya politik etis, dapat terlihat adanya kemajuan yang lebih pesat dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1892 di Hindia Belanda hanya terdapat dua macam sekolah, yaitu sekolah Angka satu untuk anak bumiputra terkemuka dan Sekolah Angka Dua untuk anak-anak bumiputra pada umumnya. Setelah adanya Politik Etis pendidikan di Hindia Belanda mulai mendapat perhatian lebih. Pemerintah Belanda mulai menciptakan sesuatu sistem pendidikan untuk menangani bermacam-macam golongan yang ada dalam masyarakat. Secara umum sistem pendidikan tersebut banyak menganut diskriminasi ras yang didasarkan menurut lapisan ataupun keturunan yang ada. Kemudian sekolah-sekolah yang terdapat di Hindia Belanda dibagi menjadi dua yaitu sekolah Bersubsidi dan sekolah Tak Bersubsidi (partikelir). Semua sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda semua diberikan subsidi begitupula sekolah-sekolah yang dianggap satu aliran dengan kebijakan pemerintah diberikan subsidi serti disediakan guru-guru untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar.

Sekolah negeri pemerintah kolonial (sekolah bersubsidi). Pendidikan rendah di Hindia Belanda yang sering disebut Lager Onderwijs dibagi menjadi tiga macam yaitu sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westerch Lagere Onderwijas), sekolah rendah dengan bahasa pengatar bahasa daerah, dan sekolah peralihan (Schakelschool). Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu ELS (Europeese Lagere School) yaitu sekolah rendah Eropa, kemudia sekolah adalah HCS (Hollandsche Chinese School), yaitu sekolah untuk anak-anak keturunan China dan sekolah bumiputra. Kemudian HIS (Hollandsche Inlandsche School) yang merupakan peleburan dari Sekolah Kelas Satu.

Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda yang pertama ialah ELS. ELS didirikan guna mendidik anak-anak keturunan Eropa, anak-anak keturunan Timur Asing serta anak-anak pribumi golongan atas. Lama pendidikan sekolah ini ialah tujuh tahun. Syarat memasuki ELS sendiri bukan hanya dari kapasitas intelektual akan tetapi dari kedudukan sosial orang tua. Pendidikan hanya diberikan untu memenuhi kebutuhan akan pegawai pemerintah dan perusahaan-perusahaan Belanda dalam jumlah yang sangat terbatas. Jumlah murid-murid Bumiputra di sekolah-sekolah rendah Eropa makin meningkat selama tahun 1898-1905, dan paling tinggi selama tahun 1901-1905.

Surat keputusan pemerintah tanggal 15 Januari 1896 nomor 8, jumlah murid Bumiputra dapat diterima disekolah rendah Eropa paling tinggi 30 orang setiap tahun. Surat keputusan tanggal 26 juli 1900 nomor 10, jumlah tersebut dinaikkan menjadi 80 orang setahun. Surat keputusan tanggal 15 Oktober 1903 nomor 14 diterima di sekolah-sekolah rendah Eropa calon-calon murid sekolah pendidikan pegawai Bumiputra (pangreh praja) sebanyak 60 setahun. Murid-murid tersebut diambil dari lingkungan bangsawan, tokoh terkemukan dan mampu.

Selanjutnya Hollandsche Chinese School (HCS), lama pendidikan tujuh tahun. Pendirian HCS menunjukkan dengan jelas bagaimana sekolah dijadikan sebagai alat politik untuk mencegah orang cina menjadi tak loyal terhadap pemerintah Belanda. Sikap tak acuh akan pendidikan anak Cina tiba-tiba berubah menjadi minat yang besar akan pendidikan, Cina mendorong Belanda untuk menawarkan kesempatan belajar yang paling baik yang ada, yakni HCS yang membuka kesempatan untuk memasuki MULO maupun HBS.

Dan yang terakhir Sekolah Bumiputra kelas satu yang berganti nama menjadi Hollandsche Inlandsche School (HIS) , merupakan satu-satunya kesempatan untuk mendapat pendidikan Belanda, karena tidak adanya ELS dan HCS. Sekolah ini didirikan dengan alasan yaitu keinginan menguatkan orang Indonesia untuk memperoleh pendidikan khusus barat. Namun dikalangan pemerintahan Belanda ada yang mengajukan keberatan terhadap didirikannya HIS karena akan menimbulkan masalah pengangguran dikalangan kaum intelektual yang tidak terserap oleh pemerintah maupun swasta. Ada juga yang mengajukan keberatan karena biaya penyelenggaraannya yang besar utuk pengadaan sekolah. Ada pula yang merasa takut apabila kelompok nasionalis yang terdidik akan menyamai orang Belanda dan tumbuh menjadi golongan yang tidak puas. Tekanan dari pihak orang Indonesia, surat kabar maupun perkumpulan perkumpulan.

Perkumpulan seperti Budi Utomo dan Serikat Islam, mendesak pemerintah untuk mereorganisasi sekolah Kelas Satu. Permbukaan HIS juga didukung oleh perkembangan ekonomi dan perluasan wilayah pemerintah Belanda dilur Jawa, yang menyebabkan kebutuhan akan pegawai berpendidikan meningkat. Sekolah ini memenuhi keinginan orang Indonesia untuk melanjutkan pelajaran sampai tingkat setinggi-tingginya., bagi Indonesia HIS merupakan jalan utama bagi mobilitas sosial. Walaupun pada mulanya dimaksud untuk golongan elite, sekolah ini kemudian banyak dimasuki oleh anak-anak golongan rendah, tiba-tiba terhitung elite intelektual yang bahkan melebihi elite tradisional. Namun His banyak dikritik karena kurikulum yang terlampau berpusat pada Belanda. Anak-anak Indonesia lebih mengetahui sejarah, lagu-lagu serta pahlawan-pahlawan Belanda dari pada Indonesia sendiri. Bahasa Belanda meliputi sebagian besar dari kuirkulum.

Jenis sekolah rendah yang kedua adalah sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah, yang terbagi menjadi tiga yaitu Sekolah Bumiputra Kelas Dua yang didirikan untuk umum pada tahun 1906. Lama pendidikan yang ditempuh awalnya tiga tahun dengan kurikulum yang sederhana yaitu meliputi membaca, menulis, berhitung, dan bahasa melayu. Pada tahun-tahun berikutnya sekolah ini mengalami peningkatan mutu yang lumayan, lama pendidikan diperpanjang menjadi lima tahun dengan menambah mata pelajaran menggambar, geografi, menyanyi, ilmu bumi, pendidikan jasman, dan ilmu pengetahuan alam. Lulusan dari pendidikan sekolah ini diarahkan menjadi guru Sekolah Desa setelah mengikuti ujian dari Kepala Sekolah Negeri bumiputra. Sekolah ini dalam perkembangannya menjadi lembaga pendidikan golongan elite rendah yang keadaanya hamper sama seperti sekolah Kelas Satu.

Sekolah yang kedua ialah volkshool. Lama pedidikan yang harus ditempuh ialah tiga tahun dan sekolah tersebut didirikan pertamakali pada tahun 1907. Awalmula didirikan sekolah ini karena adanya permintaan penambahan tenaga terdidik dari perusahaan-perusahaan Barat. Sekolah ini dinilai tepat untuk dikembangkan, karena pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya. Semua biaya ditanggung oleh kas desa walaupun tidak diberikan subsisi oleh pemerintah Kolonial Belanda tetapi Sekolah volkshool (sekolah desa) dianggap sekolah milik pemerintah. Sekolah yang ketiga ialah sekolah lanjutan. Pada tahun 1914 didirikan vervolgschool (sekolah lanjutan) dari Sekolah Desa dengan tujuan menampung lulusan dari Sekolah Desa. Pada awalnay Sekolah Desa todak mampu mengantar siswanya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih ringgi, karena kurikulumnya yang sederhan. Akibatnya pemerintah mendirikan sekolah lanjutan yang terdiri dari kelas empat dan kelas lima.

Selain menyelenggarakan sekolah lanjuta sekolah dasar, pemerintah kolonial Belanda membangun sekolah lanjutan yaitu MULO, sekolah ini merupakan kelanjutan dari Sekolah Dasar berbahasa Belanda dengan lama pendidikan tiga tahun.. Faktor-faktor yang mempengaruhi didirikannya MULO yaitu banyak murid-murid Indonesia yang hanya selesai pada Sekolah Kelas Satu dan tidak ada kesempatan untuk melanjutkan sekolahnya. Sekolah lanjutan ini sendiri dibagi menjadi dua yaitu Sekolah Menegah Umum atau Algemeene Middelbareschool (AMS) dan Sekolah Tinggi Warga Negara atau Hogere Burgerschool (HBS). Sekolah AMS diperuntukkan anak-anak golongan pribumi dan golongan Timur Asing lulusan MULO. Sekolah ini menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Sekolah HBS sendiri diperuntukkan untuk lulusan ELS yang merupakan golongan Eropa, bangsawan pribumi, dan anak-anak tokoh terkemuka. Kurikulum HBS di Indonesia tak sedikit berbeda dengan yang ada di negri Belanda yaitu seperti bahasa modern, matematika, dan ilmu pengetahuan alam. Sekolah ini menjadi satu-satunya lembaga persiapan untuk keperguruan tinggi yang berkualitas tinggi. HBS sangat berorientasi pada pendidikan Belanda, sehingga anak-anak Indonesia sulit untuk masuk karena syarat masuknya adalah bahasa Perancis.

 

KESIMPULAN

Belanda sangat membutuhkan tenaga kerja yang terdidik dengan biaya yang murah. Mereka menginginkan pendidikan lebih bergaya Eropa dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Untuk sistem pendidikan di sekolah tersebut, mereka menggunakan sistem yang berlaku di Belanda. Perkembangan pengajaran sampai berakhirnya politik liberal masih melanjutkan upaya bagaimana memenuhi kebutuhan akan buruh yang murah namun terdidik. Pada tahun 1893 berdiri sekolah kelas I dan sekolah kepala negeri pada tahun 1878. Pada 1892 pendidikan sekolah dasar untuk pribumi dibagi menjadi dua yaitu sekolah angka siji untuk anak-anak priyayi dan sekolah angka loro diperuntukan untuk anak-anak rakyat kebanyakan.


Perkembangan sekolah-sekolah bumiputra angka dua dan muridnya sejak tahun 1900 mengalami kenaikan mencapai 357970 sampai akhir tahun 1920. Setelah adanya Politik Etis pendidikan di Hindia Belanda mulai mendapat perhatian lebih. Pemerintah Belanda mulai menciptakan sesuatu sistem pendidikan untuk menangani bermacam-macam golongan yang ada dalam masyarakat. Sekolah negeri pemerintah kolonial (sekolah bersubsidi). Pendidikan rendah di Hindia Belanda yang sering disebut Lager Onderwijs dibagi menjadi tiga macam yaitu sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westerch Lagere Onderwijas), sekolah rendah dengan bahasa pengatar bahasa daerah, dan sekolah peralihan (Schakelschool). Selain menyelenggarakan sekolah lanjuta sekolah dasar, pemerintah kolonial Belanda membangun sekolah lanjutan yaitu MULO, sekolah ini merupakan kelanjutan dari Sekolah Dasar berbahasa Belanda dengan lama pendidikan tiga tahun. 

 

 

REFERENSI

Nasution. 2001. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara

Kartodirjo, Sastro, Marwadi Djoenoed Poesponegor, dan Nugroho Notosusanto.1975.Sejarah Nasional Indonesia.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

S.L. van der Wal. 1977. Kebijakan Pendidikan di Hindia Belanda 1900-1940, Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.

S.L. van der Wal.1977. Pendidikan di Indonesia 1900-1940, Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.


LAMPIRAN

Hollandsche Chineesche School

Hollandsch-Inlandsche School



Salam Literasi,

By : Arien Seanita Annasya

Iklan ada di sini

Komentar

Kontak Kami

Kirim

Archive